Jumat, 30 Oktober 2015, 01.43 WIB

Seperti diketahui lewat sidang sebelumnya pada hari selasa tanggal 20 Oktober 2015 tanah yang di Gugat oleh Una Bin Naedi lewat kuasa hukumnya HASANUDIN NASUTION & PATNER Yaitu tanah hasil pembelian sejak lebih kurang 30 tahun yang lalu dari saudara Roji Anif dan saudara Juhri, yang saat ini dikuasai oleh  PT.ITP,Tbk.

Saat pembelian tanah tersebut jelas-jelas disaksikan oleh para saksi dan diketahui oleh kepala desa tarikolot pada saat itu  A. Udji Djarnuji, bukti terlampir atas masing-masing letak tanah tersebut. Lokasi pembelian dari saudara Roji Anif seluas + 1200 M2, terletak di kampung Bojong Desa Tarikolot Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor yang sekarang dilalui jalur conveyor belt milik PT. ITP, Tbk dengan nomor tiang 163 - 169. Dan pembelian kedua yang sama-sama dilalui Conveyor belt, didapat dari saudara Juhri seluas + 1000 M2, di kampung Tangkolo Desa Tarikolot kecamatan citeureup, kabupaten Bogor.

Didalam persidangan, para saksi tersebut telah memberikan keterangannya sesuai dengan fakta serta bukti yang ada. Para saksi yang antara lain : Didih ,  H.Juned dan  Uci adalah orang yang masing-masing pada waktu transaksi jual beli mereka adalah benar-benar menyaksikan.

ketika dikonfirmasi wartwan TKPK , para saksi mengatakan, “Saya telah memberikan keterangan yang sebenarnya dihadapan ketua majelis hakim yang disaksikan oleh penggugat  Una Bin Naedi & kuasa hukumnya Hasanudin Nasution.SH  dan tergugat PT.ITP,Tbk dan kuasa hukumnya.

Sementara Para saksi dari pihak PT.ITP. Tbk, yang masing-masing : 1. saudara Muhtar yang menurut keterangannya terlibat dalam perangkat Desa tarikolot pada waktu pembebasan tanah, 2. Saudara Ujang yang menurut pengakuannya ia sebagai anak dari Roji, 3. Saudara Hartono yang tak lain sesuai pengakuannya adalah bekas karyawan PT.ITP,Tbk.

Dalam kesaksiannya saudara Muhtar bukan berarti tahu, tapi Muhtar hanya tahu bahwa PT.ITP, Tbk  membebaskan tanah pada tahun 1982, Muhtar ketika dimintai keterangan dihadapan ketua majelis oleh penggugat, apakah saudara Muhtar tahu waktu pembebasan tanah Juhri yang dibebaskan oleh PT.ITP, Tbk, pada waktu itu ?

“ Muhtar menyatakan tahu”

dan dari siapa anda tahu kalau membebaskan ?

“ Muhtar menjawab saya tahu dari Pak Juhri kalau PT.ITP. Tbk, membebaskan tanah saudara juhri, “

Namun tidak begitu lama, Muhtar menjawab kembali , kalau saya tahu dari anaknya pak Juhri.

Dan ketua majelis mempertanyakan lagi, “ saudara dimintai keterangan selalu berbeda-beda , pertama ditanya tahu dari Juhri, kedua ditanya dari anaknya Juhri , jadi yang benar yang mana ?

“ tandas ketua majelis hakim,

“ Saudara jangan memaksakan diri kalau memang tidak tahu ya tidak tahu saja, “ kata ketua majelis lagi

“ Jangan memberikan keterangan yang berbeda.” Pungkas Majelis Hakim

Saksi kedua dari pihak PT. ITP,Tbk, saudara Ujang ketika ditanya oleh Majelis Hakim, hanya memberikan jawaban yang simple dengan kalimat “ Saya tidak tahu apa-apa mengenai jual beli, dan yang saya tahu saat itu, ketika Bapak saya pulang dari Jakarta, ada orang dari pihak PT.ITP memberikan uang kepada Bapak saya. Itu saja “ jawab Ujang begitu singkat.

Dan saksi yang ke tiga dari pihak PT.ITP.Tbk, yaitu Hartono,

ketika ditanya oleh penggugat, “ apakah saudara tahu PT.ITP,Tbk. membebaskan tanah tersebut dari saudara juhri ?”

“ Saya tidak tahu, dan saya hanya saksi pengukuran pembuatan conveyer belt dan bukan pengukuran dalam batas, namun ketika itu ada beberapa perangkat desa yang turut serta menyaksikan “ jawab hartono

penggugat bertanya : “ Apakah saudara masih ingat siapa saja perangkat Desa itu,siapa-siapa orangnya ?”

Suhartono menjawab : “ Saya lupa pada waktu itu.”

Penggugat bertanya   : “ apakah saudara tahu kalau tanah saudara Roji sudah dibebaskan  PT.ITP.Tbk ?”

Suhartono menjawab  : “Saya tidak tahu dan tahunya saya tiang 163 sampai dengan 169 adalah  Kepunyaan saudara Sa’i yang luasnya ± 1080 M ”.

Pada hari Rabu tanggal 21 Oktober 2015, telah dilangsungkan sidang ditempat yang dipimpin langsung ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cibinong Bogor. Didit Pambudi,SH.

Dalam pembuktian dilapangan, Una bin Naedi selaku penggugat diminta untuk menunjukan batas-batas tanahnya yang saat ini tengah dikuasai oleh PT. ITP,Tbk. Dan pembuktian dilapangan tersebut berjalan sangat singkat hanya berlangsung +  1 jam saja.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hasannudin Nasution, SH selaku kuasa hukumnya pada hari Kamis 30 April 2015 telah mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Cibinong Kabupaten Bogor  dengan Nomor : 95/PDT.G/2015, terkait tanah yan di sengketakan tersebut.

Berikut kutipan percakapan Pak Nas sapaan beliau dengan wartawan TKPK :  

“ apakah Bapak selaku kuasa hukum dari pak Una, sudah melakukan untuk negosiasi terlebih dulu kepada pihak perusahaan ? ”

“ Oh itu sudah kami lakukan beberapa waktu lalu, pertama kami telah mengundang pihak perusahaan untuk hadir di kantor kami di Jakarta, dan itu sudah terlaksana namun tidak menghasilkan jawaban yang pasti. Dan yang kedua kami mendapat undangan dari PT,ITP, disana kami beserta keluarga pak Una diterima oleh Pak Agus Cs, sama seperti saat mereka datang ke kantor kami.” Ungkap Pak Nas, sapaan yang biasa digunakan kepada Hasanuddin Nasution, SH.

“ Disitu di kantor  PT. ITP  pertemuan kamipun tidak membuahkan hasil, namun dari pihak mereka malah menyuruh kami untuk menempuh jalur hukum. “ sambungnya.

“ Kami tidak gentar, dan kami siap untuk menghadapi perusahaan raksaksa itu dengan bukti-bukti yang ada serta saksi yang kuat, dan perlu dingat oleh teman-teman wartawan, bahwa ini adalah pintu awal bagi masyarakat yang masih belum mendapatkan ganti rugi dari PT. ITP, yang katanya sejak tahun 1973 atau 1974 sampai saat ini belum beres juga. “ lanjut Pak Nas lagi.

 Wah sepertinya Bapak sudah  lebih tahu mengenai permasalahan masyarakat sekitar yang masih sengketa dengan PT. ITP  ? “ Sela TKPK

“ Ya saya tahu, karena berkasnya ada dikantor saya, dan saya sendiri yang akan menjadi kuasa hukum dari masyarakat itu, tapi ini lain Desa dengan pak Una. “ Jawab Pak Nas.

“ Saya pribadi sedang mempelajari berkas-berkas yang sudah masuk ke ruang kerja saya, dan Insya Allah tidak lama lagi berkas itu akan rampung dan segera dibuatkan gugatannya. “ lanjut Pak Nas.

 “ Saya mohon kepada teman-teman media, cobalah anda-anda bantu untuk selalu mengawal masyarakat, agar mereka itu dapat menikmati apa yang sudah menjadi hak mereka, jangan sampai hak mereka itu dirampas oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, dan diluar sana masih banyak pak Una – pak Una yang lain, yang kasusnya mirp dengan Pak Una ini. “ ungkapnya lagi sambil menunjukan jari tangannya ke arah Pak Una yang duduk tak jauh darinya.

“ Dan Pak Una ini tidak hanya punya urusan dengan PT. ITP, banyak tanah-tanah beliau yang diserobot oleh orang lain, dengan cara di manipulasi data surat tanah yang seolah-olah pak Una ini sudah pernah transaksi jual-beli, karena beliau ini buta hurup tidak bisa baca tulis, makanya dengan mudah untuk di kelabui. Di kasus itu nanti, diduga ada campur tangan oknum kepala desa dan anggota Dewan yang ikut bermain, karena dalam surat-surat transaksi jual-beli tersebut janggal dan diduga ada pemalsuan serta  kebohongan. Kasus ini tidak hanya manipulasi data surat, namun juga diduga ada penggelapan pajak bumi yang tidak disetorkan. Bukti-bukti sudah banyak terkumpul tinggal melengkapinya saja, dan selanjutnya akan kami bawa dan di laporkan ke Polda Jabar. “ lanjutnya

“ Kalau boleh tahu pak, kira-kira siapa anggota Dewan, dan dari fraksi apa serta dari DPRD Propinsi atau Kabupaten yang bapak maksud..? “ sela TKPK lagi

“ Ya… ada….lah…… masa harus dibuka sekarang sih, nanti keburu kabur duluan, yang jelas anggota dewan tersebut selaku pendana atau pemodal, karena dia berpikir yang penting dia punya keuntungan, masalah manipulasi data dan sebagainya dia tak terlalu penting dan tidak mau tahu, yang penting bagi dia, yang dia pikirkan hanya keuntungan dari dana yang sudah dia keluarkan. Pokoknya dikasus ini kemungkinan akan banyak yang dilaporkan dan banyak yang terjerat, teman-teman media dimohon untuk selalu mengawal dan memantau , agar kebenaran itu haruslah benar. “ Pungkas Pak Nas sambil melangkahkan kaki ke arah mobilnya.

Pak Una bin Naedi selaku pemilik tanah saat dikonfirmasi TKPK, “ Apa harapan bapak dengan sudah masuknya gugatan tersebut ke Pengadilan…? “

“ Kalau bapak mah senang dan merasa tenang karena sudah di kuasakan ke bapak pengacara, mudah-mudahan masalah ini cepet selesai, bapak sudah tua dan cape dengan masalah ini, karena sebelum masalah ini di serahkan kepada Pak Nas, sudah sekian lama masalah ini gak pernah tuntas. “ Keluh pak Una

“ Sebelumnya juga ada orang yang mengaku pengacara mau urusin masalah ini, tapi ujung-ujungnya gak jelas, tidak seperti Pak Nas sekarang ini. Kalau pengacara yang dulu bapak gak pernah diajak begini-begini, dan kantornya saja bapak tidak tahu. “ sambung pak Una lagi.

“ Ya bapak berharap, mudahan-mudahan perusahaan yang sudah memeprgunakan tanah bapak itu mau bijaksana dan mengerti dengan keadaan bapak. Tanah-tanah bapak juga banyak yang diambil orang, satu persatu tanpa ada alasan tanah itu sudah jadi milik orang, padahal bapak belum pernah menjual. “ Keluhnya lagi

Memang bapak mengakui pernah ada tanah yang sudah bapak jual, tapi bapak juga tahu tanah mana yang sudah bapak jual, tapi ini aneh tanah yang belum bapak jual masa tahu-tahu punya orang lain. Walaupun bapak sudah tua begini bapak masih ingat dan tidak pikun, bapak masih ingat semua ukuran dan batas-batas tanah bapak. “ Pungkas pak Una yang sepertinya agak kesal mengingat semua itu.

Dulu saya pernah minta bantuan kepada kepala desa tarikolot yaitu pak Lurah Wawan Kurniawan sekitar tahun 2007 dan beliau sangat kasihan kepada saya walaupun saya bukan warga beliau, tandas pak Una Bin Naidi kepada wartawan TKPK.

Pokoknya saya semangat terus walaupun sudah tua,dan saya berdoa mohon kepada yang maha kuasa agar saya ada yang bantu, akhirnya Allah maha adil dan maha tahu mana yang benar dan mana yang salah, akhirnya saya ketemu dengan Pak Hasanudin Nasution,SH yang sekarang membantu saya sampai kepengadilan negeri Cibinong dan saya berdoa semua ini ada jalan keluarnya dan ada titik temuanya, Amin. (TKPK.021/070)

Baca juga
 
Komentar
 
 Name
 Email
 Message  
 
Ketik Kode: 
  

http://tabloidkpk.com/uploaded/COV-Edisi%2043%20JULI'15-%20Acc1.jpg